Jembatan sepanjang sekitar 30 meter itu membentang di atas rawa dengan ketinggian diperkirakan mencapai 40 meter. Akses tersebut menjadi satu-satunya jalur vital bagi warga Tiyuh Tunas Asri, Tubaba, menuju wilayah perkebunan di Gunung Madu, Lampung Tengah, maupun sebaliknya.
Ironisnya, di tengah kondisi yang membahayakan, aktivitas warga tetap bergantung penuh pada jembatan tersebut. Mulai dari pekerja perkebunan, petani, hingga anak-anak sekolah harus melintasinya setiap hari.
Komang, warga Gunung Batin Baru, menuturkan bahwa jembatan itu telah digunakan sejak tahun 2004.
> “Dulu kami pakai perahu. Harapan kami sekarang dibuatkan jembatan baru yang lebih aman,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Waharas, warga Tunas Asri, yang berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen. Menurutnya, kecelakaan kerap terjadi, terutama bagi pengendara sepeda motor yang nekat melintas di jembatan yang sejatinya hanya layak untuk pejalan kaki.
> “Sering terjadi kecelakaan, apalagi anak sekolah juga lewat sini setiap hari,” katanya.
Data di lapangan menunjukkan, sekitar 173 kepala keluarga (KK) dari wilayah Gunung Batin bermukim di seberang jembatan. Mereka menggantungkan akses pendidikan, ekonomi, dan kebutuhan sehari-hari ke wilayah Tubaba.
Herman, warga Tunas Asri lainnya, menegaskan bahwa jembatan tersebut merupakan urat nadi aktivitas masyarakat dari Tunas Asri hingga Sindang Agung.
> “Semua aktivitas lewat sini, anak sekolah, belanja, sampai mengangkut hasil bumi. Kami sangat berharap jembatan ini dibangun lebih layak agar kami benar-benar bisa merasakan kemerdekaan dalam bentuk akses yang aman,” ujarnya.
Ia juga berharap aspirasi masyarakat dapat sampai kepada pemerintah daerah hingga tingkat provinsi.
Tragisnya, kondisi jembatan yang tidak layak ini telah memakan korban. Fatur, seorang pelajar SMP, menjadi salah satu korban kecelakaan akibat patahnya papan jembatan.
> “Saya jatuh ke sungai karena papan patah. Tangan saya patah dan harus dirawat dua bulan, penyembuhannya sampai lima bulan,” tuturnya.
Orang tua Fatur yang mendampingi berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, khususnya untuk keselamatan anak-anak yang harus menempuh risiko besar demi pendidikan.
> “Kami mohon dibangun jembatan permanen agar anak-anak bisa sekolah dengan aman dan masa depan mereka lebih terjamin,” ungkapnya.
Kondisi ini menggambarkan ketimpangan infrastruktur yang masih dirasakan masyarakat di wilayah pelosok. Di saat akses jalan yang layak menjadi kebutuhan dasar, warga di perbatasan justru harus mempertaruhkan keselamatan setiap hari.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai rencana pembangunan atau perbaikan jembatan tersebut.(Dwi.p/Anton)
0 Komentar